Puing yang Menyimpan Luka Jakarta

Jakarta Hiruk pikuk lalu lintas kawasan Senen, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025). Bekas luka Jakarta masih ada. Tersimpan di balik sebuah etalase berdinding kaca, di dalam sebuah halte. INITOGEL Halte TransJakarta itu sudah kembali berdiri dan melayani penumpang. Ada cerita kelam di balik kesibukannya.

Dari luar, penumpang Transjakarta bisa melihat dengan jelas. Serpihan kenangan yang hangus. Jejak yang membawa ingatan banyak orang atas tragedi yang mengerikan dan mencekam. Malam kelam demo yang berujung kerusuhan.

Terlihat mesin BCT (Balance Check Terminal) atau gate tap in-out yang hangus terbakar. Ada bagian kipas angin yang tak lagi utuh. Bersanding dengan pecahan trotoar. Sebuah televisi LED yang tak lagi menyala. Semua tersusun rapi seperti sebuah museum kecil. Ada emosional yang tergugah saat melihat etalase.

“Langsung teringat betapa mencekamnya demo kala itu. Semoga tidak terulang lagi ya,” kata Dewi (25), salah satu penumpang Transjakarta.

etalase sisa kerusuhan di halte jaga jakarta

etalase sisa kerusuhan di halte jaga jakarta

Memori Agar Tak Boleh Terjadi Lagi

Bagi warga yang melintas, benda-benda itu bukan sekadar puing. Puing itu menjadi saksi bisu dari peristiwa kelam akhir Agustus 2025. Ketika halte-halte Transjakarta di Jakarta dibakar sejumlah orang tak bertanggung jawab.

Di dalam etalase kaca itu, ada cerita dan keterangan waktu kejadian. Diceritakan pula sejumlah halte Transjakarta yang terbakar. Kronologi kejadian hingga perbaikan dinarasikan rapi dalam etalase itu.

Semuanya dirangkai sebagai pengingat bahwa setiap kerusakan adalah kehilangan bersama, dan setiap perbaikan lahir dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menuturkan, puing-puing itu sengaja dipajang agar publik tak melupakan luka yang pernah ada. Terutama, luka kota akibat rusuhnya aksi unjuk rasa.

“Mudah-mudahan memorable ini jadi pengingat bahwa di tempat ini pernah terjadi peristiwa yang tidak boleh terulang kembali,” ujarnya.

Jaga Jakarta

Sekuat tenaga, halte itu akhirnya kembali berdiri. Kembali menyapa pengguna Transjakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan perubahan nama Halte Transjakarta Senen Sentral menjadi Halte Jaga Jakarta.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah cepat untuk memperbaiki fasilitas umum (fasum) yang menjadi andalan warga ibu kota tersebut. Kurang dari sepekan, perbaikan vital halte-halte yang rusak parah rampung.

“Pergantian nama ini adalah simbol ajakan kepada masyarakat untuk menjaga fasilitas umum di Jakarta,” ucapnya.

Para petugas tampak bersemangat kembali. Mereka membersihkan lantai halte siap menyambut pengguna transportasi.

Selain itu, terlihat mesin tap in-out juga berfungsi normal, bus juga berhenti dan berangkat sesuai jadwal, dan penumpang kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Bagi sebagian warga terutama bagi mereka yang sehari-hari menggunakan transportasi publik, pameran puing-puing sisa kebakaran yang ada di halte itu membangkitkan perasaan yang sulit dilupakan.

Sumber : Guesehat88.id