Stockholm – Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan potensi konflik di Eropa, warga Swedia kini semakin serius mempersiapkan diri menghadapi INITOGEL situasi darurat.
Dalam sebuah pameran kesiapsiagaan sipil di wilayah barat daya Stockholm, Sirkka Petrykowska (71) mengaku telah menyiapkan berbagai perlengkapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk, dikutip dari laman France24, Minggu (5/10/2025).
“Saya sudah membeli kompor berkemah dan mengikuti kursus pengawetan makanan dengan cara tradisional — bagaimana menyimpan sayuran, daging, dan buah agar bisa bertahan hingga 30 tahun tanpa lemari es,” ujarnya kepada AFP.
Selain itu, ia juga menyiapkan selimut, kompor gas untuk pemanas, serta persediaan makanan di rumah pedesaannya. “Saya ingin siap untuk segala kemungkinan,” katanya.
Langkah-langkah pribadi seperti yang dilakukan Petrykowska merupakan bagian dari kesadaran nasional yang terus digalakkan pemerintah Swedia.
Pada akhir September, negara itu menggelar Pekan Kesiapsiagaan Nasional, sebuah inisiatif tahunan untuk memperkuat strategi “pertahanan total” — melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi ancaman.
Swedia menghidupkan kembali strategi tersebut pada 2015, menyusul aneksasi Krimea oleh Rusia. Setelah invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022, pemerintah memperluas langkah ini, termasuk dengan menunjuk Menteri Pertahanan Sipil.
Tujuannya sederhana namun menyeluruh: memastikan seluruh elemen negara — dari pemerintah, warga sipil, hingga pelaku bisnis — dapat bekerja sama mempertahankan fungsi vital negara jika terjadi krisis atau serangan bersenjata.
Warga Diminta Mandiri 7 Hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1766851/original/047426600_1510369703-20171111-Swedia-vs-Italia-AP-AFP8.jpg)
Pendukung timnas Swedia mengibarkan bendera dan meneriakan yel-yel saat menyaksikan pertandingan antara Swedia menjamu Italia dalam kualifikasi Piala Dunia 2018 di Solna, Swedia (10/11). Swedia menang 1-0 atas Italia. (AP Photo/Frank Augstein)
Pemerintah mendorong setiap warga untuk menyiapkan persediaan makanan yang cukup untuk bertahan hidup setidaknya selama tujuh hari tanpa bantuan eksternal.
Menurut Badan Pangan Swedia, langkah ini memungkinkan bantuan lebih cepat diberikan kepada kelompok rentan seperti lansia dan orang sakit pada saat krisis.
Badan tersebut juga merilis daftar makanan yang direkomendasikan — tinggi lemak dan protein serta tahan lama — seperti pesto, daging atau ikan kering, selai, cokelat, kentang instan, susu bubuk, dan biskuit.
“Dalam skenario perang, aktivitas fisik masyarakat meningkat, sehingga kebutuhan kalori juga naik sekitar 100 kalori per hari,” jelas Oskar Qvarfort, pejabat di Badan Pangan Swedia.
Martin Svennberg, seorang pengembang bisnis asal Stockholm, juga ikut mempersiapkan diri. Ia menyimpan 100 kilogram tepung, puluhan kaleng makanan, serta stok makanan kering beku di ruang bawah tanah rumahnya — cukup untuk keluarganya bertahan selama tiga bulan.
Namun, baginya, makanan bukan sekadar sumber energi. “Makanan juga memberi ketenangan dan dukungan moral. Menyimpan makanan yang Anda sukai dan biasa dimakan sehari-hari sangat penting,” katanya. “Dalam situasi sulit, rasa nostalgia dari makanan bisa memberi penghiburan.”
Dukungan Publik dan Tantangan Logistik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4712889/original/066163100_1704959629-20240111-Perang-Rusia-Ukraina-AP-1.jpg)
Dalam foto yang disediakan oleh Layanan Darurat Ukraina, petugas pemadam kebakaran memeriksa lokasi serangan rudal Rusia yang menghantam sebuah hotel di Kharkiv, Ukraina, Rabu (10/1/2024). Dua rudal Rusia menghantam hotel tersebut dan melukai 11 orang. (Ukrainian Emergency Service via AP)
Survei yang dilakukan oleh Badan Kontingensi Sipil Swedia (MSB) terhadap 2.000 responden menunjukkan 86 persen warga percaya bahwa negaranya layak dipertahankan jika terjadi serangan militer. Sebanyak 76 persen juga menyatakan kesediaannya berpartisipasi dalam pertahanan sipil.
Namun, kesiapan nasional ini bukan tanpa tantangan. Dengan wilayah yang luas dan banyak daerah terpencil, distribusi pangan menjadi persoalan utama.
“Sebagian besar produksi dan impor pangan terkonsentrasi di wilayah selatan. Jika terjadi konflik, mengirim pasokan ke wilayah lain akan menjadi tantangan nyata,” ujar Qvarfort, menambahkan bahwa situasi ini mirip dengan yang dihadapi Ukraina saat ini.
Sumber : Guesehat88.id